Bekerja dengan Kami
 
Dampak Perubahan Konsumsi Media
25 June 2019

Era digital telah berada di depan mata. Perbedaan antar generasi telah menyebabkan perubahan dalam cara mengonsumsi media. Hal ini kemudian memengaruhi perilaku dan permintaan konsumen. Keberadaan berbagai jenis perilaku konsumen tentu menghadirkan tantangan tersendiri bagi perusahaan. Mungkin sulit untuk memahami atau mengidentifikasinya, tetapi perusahaan perlu menyadari bahwa mengubah dan menyesuaikan layanan sesuai dengan keinginan pelanggan merupakan suatu keharusan. Seiring pengetahuan tentang dampak yang ditimbulkan, juga penting bagi perusahaan untuk mengenali perilaku konsumen di era digital ini (“Perilaku Konsumen,” 2019).

 

Perilaku pertama adalah bagaimana kosumen menetapkan  standar untuk merek. Mereka tidak lagi membandingkan merek-merek untuk produk yang sama, tetapi membandingkan semua yang mereka konsumsi, tidak peduli industri atau produk. Mereka juga membandingkan berbagai elemen seperti layanan, kualitas, dan kepuasan pelanggan secara keseluruhan. Merek tidak lagi hanya berfokus pada pesaing langsung, tetapi juga fokus pada bagaimana perusahaan bisa lebih baik daripada merek terbaik yang digunakan konsumen.

 

Yang kedua adalah toleransi pelanggan. Di era digital ini, media sosial mempunyai pengaruh besar dalam industri pemasaran. Pelanggan menekankan adanya kenyamanan layanan, dan jika hal ini tidak terpenuhi, sangat mudah untuk mengeluh di media sosial yang akan memperburuk reputasi perusahaan. Hal ini yang kemudian menyulitkan perusahaan memenuhi keinginan dan kebutuhan pelanggan. Karena itu, mereka perlu selalu berimprovisasi dan mencari cara baru untuk memenuhi permintaan.

 

Poin berikutnya adalah dialog pelanggan. Antara media sosial dan forum pelanggan, pelanggan memiliki kemampuan untuk membangun dan menghancurkan reputasi merek. Sampai saat ini, strategi pemasaran dari mulut ke mulut adalah promosi yang paling berpengaruh. Sebagian besar pelanggan memilih suatu merek berdasarkan pendapat kerabat dekat mereka seperti teman dan keluarga. Selain itu, loyalitas juga salah satu aspek yang perlu dipertimbangkan. Pelanggan menginginkan nilai uang dan tidak lagi mau menerima produk dan layanan murah. Mereka rela membayar lebih mahal untuk produk dan layanan berkualitas baik dibandingkan produk murah dengan kualitas buruk dan layanan buruk.

 

Dikarenakan mudahnya akses internet dan media sosial, pelanggan dapat memperoleh informasi dan ulasan dalam hitungan detik. Informasi ini memberikan detail yang memadai dalam mengambil keputusan untuk membeli suatu produk atau tidak. Hal ini berhubungan dengan perilaku komunikasi multi-channel. Merek tidak dapat memutuskan metode komunikasi mana yang paling baik digunakan oleh pelanggan. Mereka memutuskan sendiri berdasarkan saluran yang paling banyak digunakan oleh teman, keluarga, dan orang yang mereka idolakan.

 

Menurut Ferdian Budiarto, penting bagi perusahaan untuk memberikan perhatian tidak hanya untuk menjual komoditas atau produk, tetapi juga pengalaman konsumen. Dia percaya bahwa pengalaman konsumen adalah kombinasi dari produk, layanan, keterlibatan, dan semua elemen harus baik untuk menciptakan perilaku konsumen ("CMBS 2018," 2018). Ketika pelanggan lebih aktif terlibat dalam memilih produk dan layanan, merek harus mengubah pendekatan dan strategi mereka agar dapat mengakomodasi permintaan pelanggan dengan lebih baik.

 

Ada dua tren populer yang berkembang di era digital ini, yaitu: webrooming dan showrooming. Webrooming adalah perilaku konsumen yang sering mencari barang melalui saluran daring, membandingkan harga dari satu media ke media lain, tetapi pada akhirnya berbelanja di toko luring. Di sisi lain, showrooming adalah perilaku konsumen yang mencoba berbagai barang di toko luring kemudian membelinya secara daring. "Persentasenya tinggi, dengan webrooming sebesar 44% dan showroom sebesar 23% [dari konsumen]," tambah Iwan (2018).

 

Meskipun dunia belum sepenuhnya berubah menjadi digital, pergeseran ke digital telah memberi dampak signifikan pada vendor luring. Sebagian besar penjual tradisional mulai beralih ke digital. Kasus ini paling banyak dialami oleh majalah-majalah populer dunia, Teen Vogue, Seventeen, dan Glamour adalah beberapa contohnya. Hal yang lebih buruk dari itu adalah bagaimana beberapa penjual tradisional benar-benar menutup toko untuk selamanya. "Kiamat ritel" telah mencatat 5.399 penutupan toko dalam 12 minggu pertama di tahun 2019 di Amerika Serikat (Bell, 2019). Payless dan Topshop adalah dua contoh toko yang harus menutup pintu.

 

Namun, seperti yang dikatakan oleh Kertajaya dalam WOW Brand 2019 Festive Day, "luring belum mati dan tidak akan pernah mati." Jadi, untuk menjembatani kedua situasi ini, iklan out-of-home bisa menjadi jawaban yang tepat, terutama digital. Fitur seperti kode QR atau voucher promosi dalam iklan daring adalah contoh yang bagus untuk kasus ini. Terkadang, ketika pelanggan memindai kode diskon, dan diskon tersebut hanya dapat ditebus melalui toko fisik. Ini adalah strategi yang sempurna bagi merek-merek untuk menggunakan DOOH karena memberikan pengalaman untuk memilih bagaimana mereka berinteraksi atau berbelanja kepada pelanggan, baik melalui media seluler atau dunia fisik. Merek harus terus beradaptasi dengan kondisi yang terus berubah cepat, baik daring maupun luring, karena garis di antara keduanya akan menjadi semakin kabur hingga berintegrasi menjadi satu di masa depan.

 

Mungkin butuh beberapa saat bagi dunia untuk menjadi digital sepenuhnya, tetapi akan menjadi langkah cerdas untuk mulai mempersiapkan perusahaan dan merek Anda untuk menghadapi perubahan. Mulai menggunakan DOOH sebagai media untuk iklan atau kampanye perusahaan Anda bisa menjadi langkah pertama yang dapat diambil.

 

 

 

Referensi:

Bell, Jennie. (30 Mei 2019). Retail Store Closures: All the Companies That Are Downsizing in 2019. Diperoleh dari https://footwearnews.com/2019/business/retail/retail-store-closings-list-2019-out-of-business-downsizing-1202765735/

CMBS 2018 Bahas Perubahan Perilaku Konsumen di Era Digital. (29 Oktober 2018). Diperoleh dari https://news.okezone.com/read/2018/10/29/1/1970310/cmbs-2018-bahas-perubahan-perilaku-konsumen-di-era-digital

Kertajaya, H. (14 Maret 2019). WOW Brand 2019 Festive Day: Omni Brands.  Seminar dihadirkan oleh MarkPlus Inc. di Hotel Raffles, Jakarta, Indonesia.

Perilaku Konsumen di Era Digital. (28 Januari 2019). Diperoleh dari https://blog.mtarget.co/perilaku-konsumen-di-era-digital/

BERITA & PEMBARUAN LAINNYA